Sejarah Asal Usul Kabupaten Buru Yang Mempesona

DirektoriKota.co.id – Mengenal Sejarah Asal Usul Kabupaten Buru Yang Mempesona sangatlah penting terlebih bagi kamu yang tinggal di kota tersebut. Bagi kamu yang suka berpetualang, pelajar atau mahasiswa, bahkan para arkeolog pun harus belajar lebih dalam mengenai sejarah sebuah kota tertentu untuk kepentingan penelitian dan lain sebagainya.

Bukan hanya sebatas cerita akan tetapi pengetahuan akan sejarah sebuah kota tentu sangat diperlukan. Banyak sekali alasan mengapa kamu perlu mengenal sejarah kota terutama Sejarah Asal Usul Kabupaten Buru Yang Mempesona.

Tidak sedikit orang yang tinggal di sebuah kota namun mereka sama sekali tidak mengenal sejarah kotanya sendiri. Apakah kamu salah satunya? Oleh karena itu sudah selayaknya kamu harus mengenal sejarah kota kamu sendiri yaitu Sejarah Asal Usul Kabupaten Buru Yang Mempesona.

Seperti sudah disampaikan bahwasannya setiap kota di dunia khususnya kota-kota yang ada di Indonesia tentu memiliki sejarah yang sangat unik dan beragam. Lalu bagaimana Sejarah Asal Usul Kabupaten Buru Yang Mempesona mulai dari asal mula berdirinya, siapa pendirinya, letak pertama berdirinya, mengapa dinamakan demikian dan lain sebagainya.

Sejarah Asal Usul Kabupaten Buru Yang Mempesona

Mulailah untuk mengenali Sejarah Asal Usul Kabupaten Buru Yang Mempesona dimana kamu sekarang berada. Dengan mengenalinya lebih dalam maka pengetahuan akan kota tempat kelahiran maupun tempat sekarang tinggal akan semakin lengkap dan bisa jadi kamu akan takjub dibuatnya.

 

Sejarah Asal Usul Kabupaten Buru Yang Mempesona
Foto sumber: adlienerz.com

Pengertian Sejarah

Menurut Wikipedia, pengertian sejarah menurut para ahli J.V. Bryce sejarah adalah catatan dari apa yang telah dipikirkan, dikatakan, dan diperbuat oleh manusia. Sementara itu menurut W.H. Walsh mengatakan bahwa sejarah itu menitikberatkan pada pencatatan yang berarti dan penting saja bagi manusia. Catatan itu meliputi tindakan-tindakan dan pengalaman-pengalaman manusia pada masa lampau pada hal-hal yang penting sehingga merupakan cerita yang berarti. Lain halnya menurut Patrick Gardiner yang menuturkan bahwa sejarah adalah ilmu yang mempelajari apa yang telah diperbuat oleh manusia.

Sementara itu menurut Roeslan Abdulgani, ilmu sejarah adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat serta kemanusiaan pada masa lampau beserta kejadian-kejadian dengan maksud untuk kemudian menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya tersebut, untuk selanjutnya dijadikan perbendaharaan pedoman bagi penilaian dan penentuan keadaan sekarang serta arah proses masa depan.

Moh. Yamin mengatakan bahwa sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberapa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan. Begitu pula dengan R. Moh. Ali di dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah Indonesia, mempertegas pengertian sejarah sebagai berikut:

Jumlah perubahan-perubahan, kejadian atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.
Cerita tentang perubahan-perubahan, kejadian, atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita. Ilmu yang bertugas menyelidiki perubahan-perubahan, kejadian, dan atau peristiwa dalam kenyataan di sekitar kita.

Adapun menurut Ibnu Khaldun yang hidup pada tahu 1332–1406 mengemukakan bahwa sejarah didefinisikan sebagai catatan tentang masyarakat umum manusia atau peradaban manusia yang terjadi pada watak/sifat masyarakat itu.

Sementara itu dalam artikel ini yang akan dibahas adalah Sejarah Asal Usul Kabupaten Buru Yang Mempesona yang sumbernya di ambil dari berbagai sumber di internet.

Kota dan atau Kabupaten Buru

Kabupaten Buru adalah salah satu kabupaten di provinsi Maluku, Indonesia. Ibukota kabupaten yang berada di Pulau Buru ini terletak di Namlea.

Kabupaten Buru dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 46 Tahun 1999 tentang Pembentukan Provinsi Maluku Utara, Kabupaten Buru dan Kabupaten Maluku Tenggara Barat, yang telah diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2000.

Dengan memperhatikan kepentingan pelayanan publik dan tuntutan rentang kendali pemerintahan, sampai dengan awal tahun 2008 wilayah pemerintahan kecamatan di Kabupaten Buru mencakup 10 kecamatan. Selanjutnya, dengan telah diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2008 tentang Pembentukan Kabupaten Buru Selatan, maka 5 wilayah kecamatan yang secara geografis berada di bagian selatan Kabupaten Buru terpisah menjadi wilayah otonom, yakni Kabupaten Buru Selatan.

Namun pada akhir Tahun 2012 terjadi pemekaran 5 Kecamatan baru yang tertuang dalam Peraturan Daerah No. 20,21,22,23 dan 24 Tahun 2012 Tentang Pembentukan Kecamatan Lolong Guba, Kecamatan Waelata, Kecamatan Fena Leisela, Kecamatan Teluk Kaiely dan Kecamatan Lilialy, sehingga Kabupaten Buru menjadi 10 Kecamatan.

Pada Zaman Dahulu

Pada awal abad ke-7 M, Pelaut-pelaut dari daratan Cina, khususnya pada zaman Dinasti Tang, kerap mengunjungi Maluku termasuk Pulau Buru untuk mencari rempah-rempah, namun mereka sengaja merahasiakanya untuk mencegah datangnya bangsa-bangsa lain ke daerah yang kaya ini.

Catatan resmi tentang Pulau Buru oleh penjelajah dunia pertama kali ditulis oleh Antonio Pigafetta. Ia merupakan seorang penulis berkebangsaan Italia yang ikut dalam pelayaran Ferdinand Magellans. Ferdinand Magellans sendiri adalah seorang pelaut Kerajaan Spanyol yang melakukan ekspedisi berlayar keliling dunia pada tahun 1521-1522 dengan mengunakan kapal “Victoria” yang dinahkodai Kapten Juan Sebastian Del Cano.

Selama ekspedisi ini Pigafetta selalu menulis catatan perjalanan. Dari catatan harian “Maggellan’s Voyage: A Narrative Account Of The First Circummnavigation” diketahui bahwa pada tahun 1521 kapal Victoria yang ditumpangi Pigafetta sempat singgah di Kerajaan Tidore-Maluku Utara kemudian berlabuh di Pulau Buru yang memang terletak di jalur pelayaran internasional.

Pigafetta mengambarkan “sekitar 10 Liga dari Sullach dalam perjalanan yang sama kami menemukan sebuah pulau yang sangat besar, di pulau itu terdapat beras, kambing, binatang ternak, kelapa, gula, sagu, kacang, madu dan masih banyak lagi. Orang-orang di pulau tersebut bertelanjang, sama persis dengan seperti penduduk di Sullach, tidak mengenal agama dan tidak memiliki Raja, pulau tersebut yakni Pulau Buru.

Catatan lain yang menyebutkan tentang Pulau Buru, khususnya dataran Waeapo, terdapat dalam Buku laporan penelitian alam Alfred Russel Wallace yang merupakan seorang Naturalis, The Malay Archipelago. Ketika itu Alfred menumpang kapal pos Belanda dari Timor menuju Pulau Buru pada bulan Mei 1861. Rute ini kebalikan dari rute Kapal Spanyol Victoria, dalam ekspedisi Maggellans yang berlayar melintasi Pulau Buru menuju Timor pada bulan Januari 1521, atau 340 Tahun sebelum Wallace.

Wallace menuliskan keadaan Pulau Buru waktu itu, “Saya sudah begitu lama ingin mengunjungi pulau Bouru (Buru), yang terletak di Ceram bagian barat. Hanya sedikit informasi yang dimiliki para naturalis mengenai pulau ini, kecuali bahwa pulau ini memiliki spesies endemic Babi Rusa. Saya memutuskan untuk menetap di pulau ini selama dua bulan meninggalkan Timor Delli pada tahun 1861, saya bisa mencapai pulau ini dengan kapal uap pos milik Belanda, yang datang ke Molucca setiap bulan”. Kapal pos yang ditumpangi Wallace tersebut merapat di Pelabuhan Cajeli (Kaiely) pada 4 Mei 1861.

Penulis (Sastrawan) lain yang mendokumentasikan Buru ialah seorang Sastrawan wanita dari Belanda, Beb Vuyk, yang pernah tinggal di Pulau Buru (Kaiely) bersama suaminya. Beliau menulis roman “Rumah Terakhir di Dunia dan Kayu Dari Bara“,. kedua roman tersebut diilhami dari kehidupan sang penulis pada saat di Pulau Buru, bagi beliau Buru merupakan rumah terakhirnya dan tidak ada tempat di dunia ini yang keindahannya mampu menandingi Pulau Buru.

Di era Modern, banyak juga orang-orang hebat yang pernah menginjakan kakinya di Pulau Buru, salah satunya adalah Prof. Janet E. Steele, Guru Besar di Goerge Washington University Amerika Serikat, yang sempat menuliskan catatan perjalanan ketika berkesempatan mengunjungi Pulau Buru pada Agustus 2007. Ia merupakan salah seorang penulis asing yang menyaksikan Pulau Buru di era Modern dan telah menjadi salah satu Kabupaten Maju di Provinsi Maluku. Didalam tulisan beliau sempat menyatakan bahwa topografi dan udara di Kabupaten Buru sama seperti di California Selatan. Jauh sebelum Prof Janet, Pulau Buru menjadi suatu tempat inspirasi bagi beberapa Sastrawan terkenal Indonesia bahkan di dunia seperti Amarzan Loebis dan Pramoedya Ananta Toer (1969-1979), yang berhasil menyelesaikan beberapa karya sastra yang fenomenal baik di Indonesia maupun Dunia (diterjemahkan lebih dari 42 Bahasa), yang tentunya sumber inspirasi dan ilham datang dari Pulau Buru antara lain tetraloginya “Bumi Manusia”, “Anak Semua Bangsa”, “Jejak Langkah”, dan “ Rumah Kaca”. Selain itu juga beliau melahirkan novel reportasi “Nyanyian Sunyi Seorang Bisu”. Yang menceritakan kehidupan Tapol di Pulau Buru. Setiap sisi kehidupan di pengasingan itu beliau ceritakan dengan detail dan menawan. Beliau bukan hanya memotret kehidupan keseharian para Tapol, tetapi juga mengambarkan dengan rinci budaya masyarakat Adat setempat.

Pada saat ini Kabupaten Buru didiami oleh berbagai macam etnis, baik etnis adat Kabupaten Buru maupun para pendatang dengan berbagai ragam budaya yang menambah kekayaan khasanah budaya Kabupaten Buru sekaligus Maluku.

Sumber informasi dan gambar:

Post your Comments

NAME *
EMAIL *
Website